Rekomendasi

Heboh!, RSUD Karanganyar Dituding Meng-Covid-Kan Pasien

Kamis, 04 Maret 2021 : 12.06
Published by Hariankota


KARANGANYAR
- Bermula adanya seorang pasien meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Karanganyar. Pihak keluarga yang tidak terima lantaran dalam data status pasien dinyatakan suspect Covid-19, akhirnya melalui kuasa hukum melapor polisi.


Berdasarkan informasi yang didapat hariankota.com, Kamis (4/3/2021), menanggapi laporan tersebut, pihak rumah sakit menyampaikan bantahan, bahwa pelayanan medis yang dilakukan terhadap pasien dimaksud sudah sesuai prosedur terhadap pasien suspect Covid-19 


"Memang cukup  kompleks. Dan secara teknis,  prosedur itu banyak tidak dipahami masyarakat sehingga memicu resistensi dan kesalahpahaman," kata Direktur RSUD Iwan Setiawan dalam konferensi pers, Rabu (3/3/2021) kemarin.


Ia menyatakan, petugas pelayan medis sudah mengetahui risiko fatal yang akan ditanggung saat memberikan pelayanan kepada pasien suspect Covid-19, tapi faktanya itu tetap dilakukan demi memberikan pelayanan pada pasien


"Dengan begitu,  sangat tidak masuk akal apabila  petugas medis yang sudah disumpah akan tega membuat pelanggaran dengan  meng-Covid-kan pasien.Apalagi pelayan medis juga manusia yang memiliki nurani masak akan mencelakakan pasien,”  ujarnya.


Menurutnya, persoalan ini sebenarnya adalah sebuah kesalahpahaman yang terlanjur terjadi di bawah karena pasien dan keluarga, juga masyarakat sudah skeptis dengan istilah meng-covid-kan pasien. Sedangkan secara teknis aturan penanganan Covid-19 di rumah sakit sangat rumit karena harus detail.


"Diantaranya, aturan saat menentukan pasien reaktif Covid-19 serta tahap kedua bagaimana jika pasien berstatus reaktif meskipun keluhannya terlihat seolah tidak terkait Covid-19 tetapi sakit lambung dan sebagainya. Akhirnya terjadi beda tafsir bahwa berdasar analisis medis pasien berstatus reaktif maka harus masuk isolasi," jelasnya.


Dari keputusan berdasar analis medis tersebut, Iwan mengungkap akhirnya pasien protes karena merasa tidak reaktif dan tidak terima ketika di nyatakan suspect Covid dengan menuduh negatif terhadap layanan rumah sakit.


"Konflik seperti itu akan terus berkembang apalagi pasien meninggal dunia saat hasil swab belum keluar. Akhirnya keluarga tidak terima karena proses pemakaman secara protokol covid dan seterusnya hingga ujung-ujungnya melapor polisi," tegasnya.


Iwan menyatakan, adanya pelaporan keluarga pasien yang meninggal dengan status suspect Covid-19, lebih dikarenakan salah paham. Untuk itu ia meminta kelonggaran hati semua pihak agar tidak asal menuduh rumah sakit meng-covid-kan pasien


“Percayalah tidak ada orang bekerja melayani kok tega meng-covid-kan.Kami menerima dengan ikhlas semua kritik dan tudingan yang belum tentu benar. Kasus ini kami jadikan bahan berbenah melakukan instrospeksi menuju pelayanan yang lebih baik," tuturnya.


Menyinggung soal mediasi dengan keluarga pasien, Iwan mengatakan sebelumnya sudah mengedepankan jalur mediasi dan berusaha untuk menjelaskan namun dari keluarga pasien dengan didampingi kuasa hukum justru melaporkan pada polisi.


"Sekarang kami mengikuti dan mempercayakan pada polisi semoga bisa dihasilkan solusi yang terbaik,” imbuhnya.


Dalam Surat Menteri Keuangan Nomor S-275/MK 02/2020 tanggal 6 April 2020 yang memuat aturan serta besaran biaya perawatan pasien Covid-19, jika seorang pasien dirawat selama 14 hari, asumsinya pemerintah menanggung biaya sebesar Rp 105 juta sebagai biaya paling rendah.


Untuk pasien komplikasi, pemerintah setidaknya harus menanggung biaya Rp 231 juta per orang.


Perlu diketahui kasus tudingan rumah sakit meng-covid-kan pasien menjadi heboh setelah keluarga pasien melaporkan RSUD Karanganyar ke Polres Karanganyar dengan tuduhan sengaja meng-covid-kan pasien atas nama Suyadi (69) warga Nglano, Pandeyan, Tasikmadu, Karanganyar, meninggal pada 22 Oktober 2020 lalu.


Oleh pihak keluarga melalui kuasa hukum, kasus ini baru dilaporkan ke polisi pada pekan lalu, Jum'at (26/02/2021). Laporan yang berselang lama dari meninggalnya pasien dilakukan setelah keluarga membuka kembali dokumen dari rumah sakit.




Jurnalis : Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :