Rekomendasi

Marak Tokoh Nasional Dukung Gibran Maju DKI 1, Fahri Hamzah : Biarkan Saja

Minggu, 28 Maret 2021 : 10.25
Published by Hariankota


SOLO- Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo yang belum lama menjabat, mulai marak mendapat dukungan sejumlah tokoh nasional dan pimpinan parpol untuk maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2024 mendatang.


PAN dan PKB melalui pernyataan masing - masing ketua umumnya, terang-terangan mendukung putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi). Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora), Fahri Hamzah, menilai pertarungan dalam politik itu sebuah perjudian. Oleh karenanya, semua dikembalikan kepada Gibran sendiri.


"Politik kan dinamis ya, dan itu kembali pada pribadi masing - masing. Ada alat - alat ukur umum. Kalau wilayahnya privat, itu tergantung orangnya (Gibran-Red). Tapi juga ada wilayah yang sangat dipengaruhi oleh situasi," kata Fahri menjawab pertanyaan tentang maraknya dukungan pada Gibran.


Ditemui hariankota.com usai acara "Jagongan Budaya" sekaligus pengukuhan pengurus DPD Partai Gelora Kota Solo di salah satu resto jalan Adisucipto, Colomadu, Solo, Sabtu (27/3/2021) malam, Fahri berpendapat dinamika maraknya dukungan tokoh terhadap Gibran tidak perlu ditanggapi.


"Kalau saya sih, itu biarkan saja. Itu nanti tergantung kepada Gibran sendiri. Karena pertarungan dalam politik itu sebuah perjudian, ada ketidakpastian di sana. Nggak ada jaminan seseorang melompat ke posisi lain, terus ada jaminan dia dapat (berhasil-Red)," paparnya.


Dicontohkan pria yang dikenal pandai berdebat ini, perjalanan karir politik Presiden Jokowi dari Walikota Solo melompat menjadi Gubernur DKI Jakarta dan melompat lagi hingga berhasil terpilih sebagai Presiden Indonesia, juga merupakan buah dari proses perjudian yang disebutkannya itu.


"Beliau (Jokowi-Red) bisa dibilang sukses. Tapi ongkosnya adalah, Pak Jokowi kehilangan jaringan kerja. Saya lihat di Jakarta sekarang ini, Pak Jokowi itu jaringan kerjanya lemah. Dalam politik itu, kita harusnya membangun tim jaringan kerja," ujarnya.


Menurut Fahri, tim jaringan kerja dengan level berjenjang menjadi penting keberadaannya untuk pembagian tugas. Tidak adanya tim jaringan kerja ini dinilai telah membuat gagasan dan ide presiden kurang maksimal implementasinya di lapangan.


"Kita lihat di Amerika, kenapa Donald Trump cuma satu periode, karena jaringan kerjanya nggak ada. Dia mau merekrut pengusaha dalam kerja politik, kayaknya nggak sukses. Katanya ekonominya baik, tapi faktanya dia (Trump-Red) nggak dipilih lagi," sebutnya.


Berkaca dari persoalan yang dilihatnya saat ini, maka Fahri berpendapat, bahwa seorang pemimpin itu lebih baik membangun jaringan kerjanya, sehingga pada saat level jabatannya naik, dengan sendirinya kesuksesan juga akan didapatkan.


"Itu yang saya lihat pada Pak Jokowi. Lompatan beliau dari Solo ke Jakarta kemudian menjadi presiden, yang tertinggal adalah jaringan kerjanya. Itu (juga) yang menyebabkan beliau memilih menteri yang sebenarnya beliau nggak kenal. Coba lihat menteri - menteri itu, bisa dibilang nggak dikenal sama Pak Jokowi. Dan Pak Jokowi nggak pernah ngerti apakah orang ini bisa kerja apa tidak," pungkasnya.



Jurnalis : Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :