Rekomendasi

Work From Bali, Salah Satu Upaya Dorong Perekonomian di Bali

Sabtu, 22 Mei 2021 : 23.23
Published by Hariankota


JAKARTA
- Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mendorong Aparatur Sipil Negara di beberapa Kementerian untuk bekerja dari bali atau Work From Bali. Tujuannya untuk mendorong perekonomian Bali yang masih minus.


Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves, Odo R.M. Manuhutu menjelaskan, program ini sudah dibahas dari beberapa bulan lalu. Salah Satu tujuannya mengembalikan perekonomian bali.


"Kontraksi ekonomi Bali mencapai minus 9,36 persen di Q1, dimana tingkat kunjungan Bali minim, tingkat okupansi hotel hanya 10 persen, hotel banyak tidak cukup bayar gaji karyawan, maintenance juga tidak cukup," jelasnya dalam Konferensi Pers Virtual, Sabtu (22/5/2021), dikutip dari InfoPublik.id


Dari hitunganya, paling tidak tingkat keterisian hotel 30 persen - 40 persen untuk operasional hotel berjalan. Untuk pembayaran beban operasi hotel.


Ode juga bercerita banyaknya karyawan pelaku industri pariwisata yang dirumahkan. Jika demand sudah tercipta maka karyawan itu bisa di rekrut kembali.


"Karena tulang punggung pariwisata adalah akomodasi, saat ini ada total 140 ribu kamar di Bali yang terisi hanya 10 persen," jelasnya.


Menurut Ode, WFB adalah salah satu rencana yang akan dilakukan untuk menopang ekonomi Bali. Ada satu program lagi yang akan dibahas lintas kementerian yakni transformasi ekonomi Bali supaya tidak tergantung dari pariwisata.


"Bali ini tergantung sekali dengan pariwisata yang kontribusinya mencapai 56 persen, kita sedang bahas dan akan diluncurkan September ini, supaya Bali punya ekonomi yang kokoh dan terdiversifikasi dengan baik," jelasnya.


Kepala Biro Humas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Vinsensius Jemadu sangat mendukung kebijakan bekerja dari Bali atau work form bali seperti yang dicanangkan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.


Program ini dianggap bagus untuk menumbuhkan perekonomian Bali dengan penciptaan permintaan atau diman


Menurutnya, dalam kondisi saat ini ASN yang paling mudah didorong untuk menciptakan demand di Bali. Walaupun masih ada beberapa tantangan untuk menerapkan program ini, salah satunya adalah anggaran.


Anggaran untuk program ini akan besar, dan anggaran pemerintah saat ini banyak dialokasikan kepada penanganan COVID- 19. Jika anggaran saat ini minim strategi lainnya dengan regulasi kebijakan, salah satunya WFB.


"Perlu digarisbawahi kekuatan pemerintah hanya dua pertama dari APBN/APBD, kedua regulasi, jika budget APBN/APBD minim pemerintah mainkan regulasi. Sehingga kebijakan yang dilontarkan Menko Marves ini bagus, tinggal gimana implementasi di lapangan," jelasnya.


Menurut Vinsensius, Kemenparekraf sudah lakukan kajian terkait bench mark berapa banyak ASN yang akan ke Bali. Dari Kementeriannya paling tidak 25 persen ASN Kemenparekraf akan bekerja dari Bali.


Sementara Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa berharap dengan hadirnya program Work from Bali, maka perekonomian Bali bisa bangkit lagi.


“Saya kira ini adalah sebagai salah satu di dalam kita survival sebetulnya. Kalau memulihkan itu cukup berat karena pandemi COVID ini memang membatasi orang-orang untuk bepergian. Pesawat-pesawat juga parkir semua sehingga untuk memulihkan 17,5 juta wisatawan yang ke Bali, tentu pekerjaan yang sangat berat,” kata Putu.


Putu menilai kebijakan Work from Bali yang digagas Menko Luhut Binsar Pandjaitan ini sangat melegakan.


“Walaupun kontribusinya tidak seperti normal, tapi bagi kami akan bisa menumbuhkan semangat ataupun optimisme dari rekan-rekan kami di pariwisata untuk tidak menjadi frustasi,” ucapnya.





Jurnalis : San 
Editor : Mahardika

Share this Article :